
Sebagai manusia kerap kali kita tergesa-gesa akan suatu hal. Tergesa melihat layar smartphone sesaat setelah bangun tidur, tergesa saat makan karena ada kerjaan yang menanti atau sekedar tergesa saat mengikat tali sepatu ketika hendak pergi bekerja. Padahal, bunga bisa tumbuh merekah dengan indah karena ada proses di dalamnya. Mulai dari cahaya yang harus tepat menyinari atau kadar yang sesuai sehingga proses anthesis tersebut dapat berjalan sempurna. Apalagi di era digital yang begitu cepat saat ini. Semua berlomba-lomba “naik” ke posisi tertentu, dan semua dengan mudahnya terpampang di media sosial.
Melambat dan menikmati segala proses rasanya kemampuan yang sangat penting dimiliki di era saat ini. Misalnya ketika bangun tidur, selain membaca doa pikirkanlah sejenak yang bisa disyukuri pagi ini seperti masih memiliki kesehatan, ada orang tersayang di samping kita lalu ambilah wudhu dengan seksama. Rasakan tangan yang terbasuh air, hingga menyentuh kepala dan kaki. Lagi dan lagi.. Rasakan karunia kesehatan yang Allah berikan. Saat membuat sarapan, syukuri adanya rezeki kala itu. Mungkin roti lapis selai coklat yang sebelumnya terlihat biasa saja bisa jadi luar biasa pagi itu. Ketika ada kerabat berhasil membeli rumah atau mobil baru, bersoraklah bersama. Tidak perlu terburu-buru untuk memilikinya juga. Allah Maha Mengatur dan Menguasai Alam Semesta. Semuanya sudah diatur dengan sebaik-baiknya.
Terkadang, pertumbuhan justru hadir ketika kita mulai memahami diri sendiri, menerima keadaan, dan menyadari bahwa setiap fase kehidupan memiliki waktunya masing-masing. Sebab, tidak semua hal harus segera kita miliki. Tidak semua pencapaian harus kita raih di usia yang sama. Ada yang Allah titipkan lebih awal, ada pula yang baru datang setelah kita melewati perjalanan panjang. Dan mungkin, dalam perjalanan itu, Allah sedang mempersiapkan hati kita agar mampu menerima apa yang kelak akan menjadi milik kita.
Seperti bunga yang tidak pernah memaksakan dirinya untuk mekar sebelum waktunya, kita pun tidak perlu terus-menerus mendesak diri untuk menjadi sesuatu yang belum saatnya. Bunga tidak membandingkan kelopaknya dengan bunga lain. Ia hanya tumbuh, menyerap cahaya, menerima hujan, dan menjalani prosesnya sendiri. Hingga suatu hari, ia mekar dengan indah, tanpa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Barangkali, kita juga perlu belajar menjalani hidup dengan cara yang sama. Berusaha sebaik mungkin tanpa kehilangan ketenangan. Memiliki cita-cita tanpa terus merasa tertinggal. Merayakan pencapaian orang lain tanpa mengecilkan perjalanan sendiri. Serta memahami bahwa istirahat bukan berarti berhenti bertumbuh, dan melambat bukan berarti kehilangan arah.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai. Ada banyak hal berharga yang justru bisa terlewat ketika kita terlalu sibuk mengejar tujuan. Kehangatan percakapan dengan orang tersayang, nikmatnya makanan sederhana, udara pagi yang menyegarkan, hingga kesempatan untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit.
Maka, tidak apa-apa jika hari ini kita belum sampai di tempat yang kita inginkan. Tidak apa-apa jika ada hal-hal yang masih harus diperjuangkan, doa-doa yang belum menemukan jawabannya, atau rencana yang belum berjalan sebagaimana mestinya.
Selama kita masih berusaha, berdoa, dan menaruh kepercayaan kepada Allah, selalu ada ruang untuk bertumbuh. Kita hanya perlu belajar untuk tidak terburu-buru menilai perjalanan sendiri. Sebab, mungkin yang kita butuhkan bukanlah kehidupan yang bergerak lebih cepat, melainkan hati yang lebih lapang untuk menerima setiap proses di dalamnya.
Pelan-pelan saja. Tidak semua yang indah harus segera tiba. Ada kalanya, dengan melambat, kita justru belajar melihat betapa banyak kebaikan yang selama ini telah Allah hadirkan di sepanjang perjalanan.
